GROSIR XAMTHONE Plus

Kamis, 13 November 2008

GARAM NON-YODIUM, SULIT DIBENDUNG

UNTUK PEMESANAN HOLISTIC DIAMOND SALT DAN SEMUA PRODUK HOLISTIC BIO MEDICINE YANG ASLI LEGAL BERSERTIFIKAT SILAHKAN HUBUNGI BADRUDIN MUHSIN DI HP: 085227044550 / 021-91913103 email / YM : binmuhsin_group@yahoo.co.id
===
===
Media Indonesia, Rabu 11 Desember 2002)

Pemerintah sudah mengeluarkan keputusan bahwa garam nonyodium sudah tidak boleh lagi diproduksi. Walaupun demikian, hingga kini banjir garam nonyodium di pasaran sepertinya tidak bisa dibendung.

Seperti dijelaskan Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan, Dr. Azrul Azwar, memang masih ada berbagai masalah yang berkaitan dengan garam beryodium ini. Mulai dari kondisi iklim dan alam wilayah Indonesia yang turut mempengaruhi produksi garam hingga banyaknya curah hujan yang berdampak produksi garam tak mencukupi.

Masalah lain adalah masih adanya garam import yang masuk dan dipasarkan sebelum diyodisasi. Kemudian masih rendahnya kwalitas garam rakyat, sementara garam beryodium sendiri harganya masih dianggap mahal. “ Kesadaran masyarakat tentang manfaat garam beryodium juga masih kurang, serta adanya kebiasaan menyimpan garam dalam wadah terbuka dan diatas tempat memasak, sehingga mudah menguap,” katanya.

Upaya yang dilakukan, kata Azrul, di antaranya pembinaan petani garam, penguatan jaringan tata niaga garam dan lintas batas antar negara dan antar pulau. Standar Nasional Indonesia (SNI) menetapkan standar kadar yodium dalam garam. “Selain itu, juga menegakkan peraturan perundangan untuk mendukung program pelaksanaan yodisasi garam dan penerapan sanksi.”

Tidak disangkal pula, banyak garam dengan label beryodium, tapi ternyata kandungan yodiumnya nol. Kondisi tersebut, tentu saja mau tak mau menghambat upaya penanggulangan gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY) yang telah digalakkan sejak 1977. Menurut Ketua Umum Asosiasi Produsen Garam Konsumsi Beryodium (Agrogakob) Abu Hidayat Ronowidjojo, upaya penanggulangan GAKY yang cukup lama itu memang telah menurunkan prevalensi gondok total dari 27,2% pada 1988 menjadi 9,8% pada 1998.

Namun, survey Badan Pusat Statistik (BPS) 2001, menunjukkan bahwa sekitar 34,9% rumah tangga di Indonesia, masih mengkonsumsi garam nonyodium atau garam tidak memenuhi SNI-kurang dari 30 ppm.

“Kondisi ini sangat mengkhawatirkan, mengingat dari tahun ke tahun cenderung semakin meningkat jumlah persentasinya yang mengkonsumsi garam nonyodium atau garam yodium.” Ujar Abu. Untuk pemerintah harus lebih galak lagi mengkampanyekan, sekaligus menegakkan aturan yang sudah diberlakukan.

Dampak dari kekhawatiran itu, kata Abu, bilamana menjadi kenyataan, segala upaya yang telah dilakukan 25 tahun lamanya ini menjadi sirna dan sia-sia, karena semakin banyaknya daerah-daerah rawan GAKY di Indonesia. Untuk itu, pihak Aprogakob sendiri telah menerapkan lima strategi “perang” melawan GAKY di Indonesia sebagai upaya menuju “bebas GAKY dunia 2005”.

Pertama menghilangkan akar permasalahan. Perdagangan garam beryodium dan tidak memenuhi SNI sangat bertentangan dengan ketentuan dalam Keputusan Presiden Nomor 69 Tahun 1994, yang dengan jelas dan tegas melarang memperdagangkan garam nonyodium dan yang telah memenuhi standar ini.

Sedangkan dalam keputusan Menteri Perinduistrian Nomor 77 Tahun 1995, Paasal 1, 3, dan 4 antara lain mengatur bahwa garam rakyat weajib dicuci dan diyodisasi di sentra produksi garam. Ditambah lagi dengan persyaratan produksi garam konsumsi sesuai SNI No. 01-3556-1994, dengan peraturan Menteri Kesehatan RI No. 156/MENKES/SK/II/1986, yaitu garam harus mena\gandung komponen utama (NaCI) minimal 94,7% kandungan air maksimal 5% dan kalium iodiat (KIO3 ppm (mg/kg)).

“Perdangan garam ilegal inilah yang menyebabkan masih banyaknya rumah tangga yang mengkonsumsi garam nonyodium. Penjualnya adalah tengkulak, pedagang, petani pedagang, sebagian produsen formal/legal, produsen nonformal/ilegal dan sebagian lagi importir”, tutur Abu.

Menurut Abu, perdagangan garam nonyodium ini dilakukan karena beberapa peluang yang dimanfaatkan, seperti pedagang di sentra garam menjual garam nonyodium keluar daerah sentra garam, disebabkan harga beli produsen garam konsumsi beryodium/produsen formal/legal lebih rendah bila dinadingkan harga beli pedagang, toko, warung di luar sentra garam.

Dari 271 produsen garam formal yang memperoleh SNI sebanyak 195 produsen memang telah memperoleh ISO-9000. Tetapi yang masih memprihatinkan adalah 75 produsen ber-SNI hasil produksinya masih labil, artinya kadang kala produksi mereka tidak memenuhi SNI.

Mereka sengaja memproduksi garam nonyoidium karena biaya produksi lebih murah dan mampu bersaing dengan pasar. Perilaku konsumen juga cenderung membeli garam yang berharga murah dan tidak perduli garam itu beryodium atau tidak. Selain itu, tambah Ir. Sudarto dari seksi Kimia Hilir Deperindag, petani memang rata-rata belum memiliki tehnologi yang memadai untuk menghasilkan garam bermutu baik. „Aparat pemerintah juga tidak ada tindakan melarang dan memberikan sanksi, hukuman atau denda kepada produsen nakal tersebut, sehingga keberadaannya menjadi menjamur dan semakin berani“. tegas Abu.

Sedangkan produsen yang nonformal, terlepas dari semua resiko untuk menjual garam nonberyodium karena status produsen ini liar, kegiatan usaha dan peredaran hasil produksi mereka tidak termonitor pemerintah. Strategi kedua adalah menetapkan sistem pengadaan bahan baku dan distribusi. Strategi ketiga adalah meningkatkan sosialisasi garam beryodium. Karena masih banyaknya masyarakat konsumen yang berperilaku tidak peduli dan tidak mau tahu bahwa garam beryodium bermanfaat untuk kepentingan kesehatan dan meningkatkan kecerdasan anak keluarga, maka semua pihak wajib mengajak dan memberikan penjelasan agar mereka sadar serta peduli mengkonsumsi garam beryodium.

Strategi keempat, meningkatkan pengawasan peredaran garam. Pengawasan peredaran garam, kata Abu, dapat dilakukan di tempat-tempat sejak awal pembuatan garam tersebit, misalnya di sentra produsi garam rakyat, gudang petani, pedagang, gudang pedagang, gudang bahan baku produsen garam konsumsi atau gudang barang jadi.

Strategi kelima adalah menetapkan sanksi. Menurut Abu, lemahnya kontrol pemerintah ditambah tidak adanya sanksi tegas yang diterapkan terhadap para pelanggar berakibat merugikan para produsen garam yang selama ini mempunyai niat baik. Yang terjadi kini adalah banyaknya beredar merek-merek garam yang dipalsukan, garam beryodium palsu dan garam dengan kadar yodium rendah. „Apabila ditindak tegas, saya yakin mereka akan jera.“

Memang Direktur Inspeksi dan Sertifkasi Pangan Badan POM (Pengawasan Obat dan Makanan) Muhammad Makmur mengatakan, mereka yang terbukti memalsukan produksinya, akan dicabut nomor MD mereka. Dan sebagai tindak lanjut dari hasil uji lapangan dari 1.704 sampel pernah ditemukan 38,9% produk ternyata tidak memenuhi standar 30 ppm per 1.000 kg garam.

Lantas, bagaimana pula tindakan untuk para produsen garam tak bermerek, yang umumnya diedarkan langsung ke Pasar ?. (Drd/MG-4/V-1)



KAMPANYE GARAM BERYODIUM

HARUS LEBIH DIGALAKKAN LAGI

(Media Indonesia, Rabu, 11 Desember 2002)



Bukan karena persoalan honor semata kalau Ulfa Dwiyanti menerima tawaran untuk ikutan dalam iklan layanan masyarakat tentang pentingya mengkonsumsi garam beryodium. Ia mengaku bahwa iklan tersebut memang amat penting agar masyarakat menyadari pentingnya mengkonsumsi garam yang mengandung yodium.

“Jadi, memang karena misinya pemasyarakatan garam beryodium saya mau menerima tawaran iklan tersebut,” ungkap wanita yang dikenal ceplas-ceplos dalam berbicara ini.

Ia mengungkapkan, sejauh ini, dirinya mengetahui kalau garam yodium memang lebih baik dikonsumsi ketimbang garam biasa. Ulfa sendiri mengaku tidak mengetahui mengapa dipilih untuk membintangi iklan tersebut. “Mungkin karena saya cerewet sehingga dianggap cocok,” ujar Ulfa yang berperan sebagai penjual warung di iklan tersebut seraya tertawa.

Soal garam beryodium, dalam pandangannya, garam itu mengandung zat-zat yang dapat mencegah berbagai penyakit, terutama penyakit gondok. “Lagi pula garam beryodium biasanya lebih terjamin mutunya,” ungkap pembawa acara Ramadhan Sahur Kita di SCTV itu. Dan, itu memang tidak hanya dilakoni dalam iklan itu saja, tetapi juga dalam kehidupan keseharian. Ia mengaku sejak lama selalu mengkonsumsi garam yang mengandung yodium. “Kalau saya sih pakai garam selalu yang mengandung yodium. Karena memang lebih sehat ketimbang garam biasa.”

Artis yang baru saja mendirikan Difa Creative Centre bersama sang kakak, Budi Bidhun, dan dua rekannya itu mengaku untuk memasak rasa garam beryodium juga membuat menjadi lebih enak.

“Saya sendiri tidak terlalu paham benar kandungan di dalamnya. Tetapi yang saya rasakan memasak dengan menggunakan garam yodium, hasil masakannya lebih enak ketimbang masakan yang menggunakan garam biasa,” ujarnya. Untuk urusan harga, meski agak lebih tinggi ketimbang garam biasa, toh selisihnya tidaklah seberapa. “Paling cuma berapa ratus perak saja. Tetapi, kita kan melihat khasiat dan manfaatnya. Keluar beberapa ratus rupiah lebih mahal nggak apalah, yang penting kita jadi lebih sehat,” ungkap Ulfa yang kini juga mulai terjun ke bisnis kue pesanan itu.

Yang jelas, di rumahnya sekarang memang selalu tersedia garam beryodium yang ia gunakan untuk dijadikan salah satu bumbu aneka masakan. Ia sendiri melihat kalau sekarang memang kita tidak terlalu sulit untuk mencari garam beryodium. Di setiap warung ada. Kondisi ini berbeda dengan beberapa tahun lalu, hanya warung-warung khusus saja yang menyediakannya.

“Sekarang ini, tukang sayur gerobak yang lewat di depan rumah saja menjual garam beryodium. Mungkin karena memang sekarang orang lebih berminat beli garam beryodium ketimbang garam biasa,” ujarnya.

Namun, ia tetap saja mengaku merasa prihatin kalau kenyataannya sampai sekarang masih banyak masyarakat yang tidak begitu peduli dengan garam yang dikonsumsinya. Mau beryodium atau tidak, mereka tidak peduli.

Atau masih banyak juga masyarakat pedesaan yang belum menyadari benar pentingnya mengkonsumsi garam beryodium. “Karena itu, menurut saya, kampanye agar masyarakat terus mengkonsumsi garam beryodium harus terus digalakkan. Agar masyarakat sadar betapa pentingnya garam beryodium untuk pertumbuhan generasi bangsa,” terangnya.



HINDARI SINGKONG, KEDELAI MENTAH

(Media Indonesia, Rabu, 11 Desember 2002)



Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat Depkes, Dr. Azrul Azwar mendefinisikan Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) sebagai sekumpulan gejala yang timbul karena tubuh seseorang kekurangan unsur yodium secara terus menerus dalam jangka waktu yang cukup lama.

Yodium sendiri merupakan sejenis mineral. Biasanya yodium terdapat di alam, baik di tanah maupun di air. Yodium adalah zat gizi mikro yang mengandung hormon tiroksin yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup. Kekurangan yodium bisa mengakibatkan pembesaran kelenjar gondok dan kretin (terbelakang).

Bukan sebatas itu saja, akibat kekurangan zat yodium, banyak anak-anak memiliki poin intelligence quotient (IQ) hanya 13,5 dibandingkan mereka yang mendapat yodium yang cukup. Hasil beberapa penelitian, anak-anak yang kekurangan yodium itu lebih bodoh dibandingkan anak yang berkecukupan mengkonsumsi yodiumnya. Azrul menambahkan yodium juga dibutuhkan calon ibu. Karena calon-calon ibu itu sangat membutuhkan yodium agar janin yang dikandung lahir sehat.

Dari hasil Survei Nasional GAKY 1998, sebanyak 45% kecamatan yang tersebar di wilayah nusantara merupakan daerah endemik GAKY. Perinciannya, sebanyak 334 kecamatan tergolong endemik berat, 278 kecataman endemik sedang, dan sebanyak 1.167 kecamatan endemik ringan.

Kondisi ini menimbulkan kesulitan tersendiri bagi pemerintah untuk pemassalan pemanfaatan garam beryodium, mengingat kondisi geografis Indonesia yang bervariasi.

Menurut Azrul, mengapa air dan tanah serta sayuran dan buah yang dihasilkan di sejumlha daerah itu, terutama pegunungan, menjadi kekurangan zat yodium? “Bisa karena erosi, yodium akan terbawa ke laut bila terjadi banjir atau hujan lebat,” jelasnya.

Untuk mengatasi GAKY, kata Azrul, pemerintah dalam hal ini Depkes, telah melaksanakan program intensifikasi penanggulangan GAKY. Upaya penanggulangan GAKY dilakukan dalam pola dua upaya, yaitu jangka pendek dan jangka panjang. “Upaya jangka pendek adalah suplementasi yodium atau distribusi kapsul minyak beryodium pada kecamatan endemik GAKY berat dan sedang,” katanya.

Salah satunya, pemberian kapsul minyak beryodium kepada setiap anak SD kelas 1-6 di daerah yang kurang yodium berat. Kapsul minyak yodium adalah larutan yodium dalam minyak berbentuk kapsul lunak yang mengandung 200 mg yodium.

Dosis pemberian kapsul minyak beryodium ini, bagi wanita subur usia 15-49 tahun sebanyak dua kapsul setahun. Ibu hamil dianjurkan mengkonsumsi satu kapsul pada masa hamil. Satu kapsul juga diberikan kepada ibu menyusui pada masa menyusui, sedangkan pada anak SD kelas 1-6 diberi satu kapsul setiap tahun.

Sedangkan upaya jangka panjang disebut juga upaya pencegahan, “Pertama, yodisasi garam. Kedua, peningkatan konsumsi aneka ragam bahan pangan dan makanan yang bersumber dari laut, serta melakukan penyuluhan gizi seimbang,” katanya. Penyuluhan gizi seimbang di antaranya penjelasan untuk menghindari konsumsi pangan yang mengandung goitrogenik, atau zat yang bisa menghambat penyerapan yodium dalam tubuh. Makanan yang dimaksud antara lain kol, kedelai mentah, dan singkong yang belum dimasak.

Di lain pihak, walaupun seseorang harus mengurangi konsumsi garam, tetap saja ia harus mengkonsumsi zat yodium. Untuk itu, dianjurkan makan makanan yang kaya yodium seperti ikan laut, udang, ganggang laut, kepiting, dan kerang.

CEBOL, BODOH KARENA KEKURANGAN YODIUM

(Media Indonesia, Rabu, 11 Desember 2002)

Ny. Hadijah tidak habis pikir. Maman, putranya yang berusia tujuh tahun, pertumbuhan tubuhnya tidak normal. Ia lebih pendek dari teman-teman seusianya. Maman juga termasuk bodoh, dan sulit mengingat pelajaran. Ny. Hadijah tidak habis pikir lagi, ketika seorang temannya bilang mungkin Maman salah memakan garam!

“Salah memakan garam? Apa hubungannya dengan perkembangan Maman?” tanya Ny. Hadijah. “Pada dasarnya, Maman mungkin sudah kekurangan zat yodium. Sudah begitu, mungkin Bu Hadijah masak tidak menggunakan garam beryodium,” ujar Ny. Yuli, teman Ny. Hadijah. Mereka biasa bertemu ketika sama mengantar dan menjemput anak mereka di sekolah.

Pada dasarnya, Ny. Hadijah memang mengakui ia tidak pernah membeli garam beryodium, kecuali garam ketengan yang harganya cukup murah. Tapi, wanita yang suaminya bekerja sebagai buruh kasar itu memang tidak tahu tentang manfaat garam beryodium. Tapi, mendengar kata yodium, ia malah takut mengkonsumsinya karena seingatnya yodium adalah sejenis obat luka. Ditambah lagi, garam beryodium harganya lebih mahal dibandingkan garam yang biasa ia beli.

Dalam benak Ny. Hadijah, garam hanyalah sekadar pemberi rasa pada masakan. Karena itu, ia tidak pernah memilih-milih garam. Ia terbiasa dengan garam ketengan, walau warnanya agak kecokelatan, yang penting asin!

Tapi, Ny. Hadijah tidak sendirian. Masih banyak jutaan orang lain yang sama sekali belum memahami apa manfaat garam beryodium. Dari catatan survei pada 2000 lalu, misalnya, menunjukkan bahwa baru sekitar 69,91% rumah tangga yang memahami manfaat garam beryodium. Sisanya, tidak peduli dengan masalah garam, karena ketidaktahuan mereka.

Kondisi buruk seperti yang dialami Maman itu memang tidak selalu terjadi, karena mungkin yodium sudah diperoleh dari makanan yang dikonsumsi. Tapi celakanya, kalau dalam satu keluarga konsumsi makanan yang mengandung yodium kurang, lalu penggunaan garam sebagai bumbu masakan pun yang tidak beryodium, akibatnya adalah tidak normalnya pertumbuhan anak-anak dari keluarga itu.

Dalam istilah kedokteran, anak yang pertumbuhan tubuhnya tidak normal dan daya pikirnya juga buruk yang diakibatkan oleh kekurangan zat yodium, disebut sebagai kondisi kretin.

Sebenarnya, gangguan tumbuh kembang semacam itu bisa terjadi pada semua orang, dari anak-anak balita hingga anak remaja. Bahkan, kasus kekurangan yodium ini bisa terjadi pada anak yang masih berada di dalam kandungan, karena ibunya kurang mengkonsumsi yodium. Selain pertumbuhan fisik tersendar dan mental serta daya pikirnya terbelakang, juga terancam oleh penyakit gondok (pembesaran kelenjar tiroksid di leher bagian bawah).

Ahli gizi, Dr. Anie Kurniawan, MSc, yang juga menjabat sebagai Kepala Subdit Gizi Klinis, Direktorat Gizi Masyarakat, Departemen Kesehatan RI, menegaskan bahwa istilah kekurangan gizi yang khas ini dikenal dengan istilah GAKY (Gangguan Akibat Kurang Yodium). Anie mengakui, kendati penanggulangan gondok endemik yang merupakan salah satu penyebab kekurangan yodium dilaksanakan sejak zaman kolonial, hingga sekarang masalah kekurangan yodium masih belum tuntas.

Berdasarkan angka prevalensi gondok yang dihitung berdasarkan stadium pembesaran kelenjar gondok yang teraba (palpable) maupun yang terlihat (visible), hasil survei 1980 pada anak sekolah di Indonesia tercatat sebanyak 37,7% mengalami pembesaran gondok.

Namun, berkat upaya pemerintah melakukan penanggulangan GAKY, angka prevalensi gondok pada anak sekolah tersebut dapat ditekan sedikit demi sedikit. Tercatat pada 1990, angka prevalensinya menurun menjadi 27,7% dan delapan tahun kemudian tepatnya 1998 menjadi 9,8%.

Dari catatan Direktorat Gizi Masyarakat Depkes, daerah dengan angka prevalensi gondok di atas 30% terdapat di Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Maluku. Sementara dengan prevalensi antara 20-29,9% terdapat di Provinsi Sumatra Barat dan Sulawesi Tenggara. Sisanya dengan tingkat prevalensi 5-19,9%.

Menurut hasil pemetaan Depkes, 9.000 bayi lahir kretin setiap tahunnya, sementara 290.000 orang menderita kretin. Angka penderita gondok mencapai 20 juta orang, dan sekitar 87 juta orang tinggal di daerah yang berisiko kekurangan yodium. Perhitungan menunjukkan sekitar 140 juta poin IQ orang Indonesia memiliki IQ hilang akibat kekurangan yodium.

Laporan Kepala Puskesmas Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang 1992, misalnya, telah menemukan 140 anak dengan gangguan tumbuh kembang. Perinciannya, tunaganda sebanyak 8 anak, tunarungu 40 anak, tunamental 80 anak, tunanetra 4 anak, tunadaksa 3 anak, sisanya 4 anak tuna lainnya dan mengalami hydrocephalus (pembesaran kepala).

Hasil data lain dari penyaringan anak kelas I SD/Madrasah Ibtidaiyah 2001 di kecamatan yang sama ditemukan 97 anak yang mengalami gangguan mental. Dari hasil pengamatan, diduga anak-anak itu disebabkan GAKY. Sebanyak 50 anak di luar sekolah juga terbukti mengalami gangguan tumbuh kembang.

“Kekurangan yodium tak bisa dianggap remeh”, ujar Anie. Pasalnya, berdasarkan hasil penelitian, GAKY bisa menyebabkan gangguan pada perkembangan otak. Anak-anak penyandang GAKY memiliki kapasitas mental di bawah normal, daya motoriknya berupa kecekatan dan keterampilannya juga cenderung terbelakang, dan intelegensinya sangat kurang, sehingga kemampuannya untuk menyerap informasi pun menjadi terbatas, dan cenderung bodoh.

Anie menyatakan bahwa manifestasi GAKY tingkat berat adalah kretin tadi. Penyebab anak kretin karena ia mengalami kekurangan hormon tiroksin dalam tubuhnya. Akibatnya, metabolisme terganggu yang berdampak akhir pada terganggunya pertumbuhan fisik di otaknya, sehingga anak juga cenderung bertubuh cebol dan kepekaan indra pendengarannya kurang, dengan kemampuan intelegensi rendah. “Gangguan semacam ini disebut sindroma kretin.”

Akan kekurangan hormon tiroksin itu bisa sejak masih berada di kandungan ibunya. Menurut Anie, kekurangan hormon tiroksin pada ibu hamil ini akan mengakibatkan anak mengalami gangguan lebih berat. Berbeda halnya dengan kekurangan hormon yang sama pada usia remaja dan dewasa yang hanya dapat menyebabkan pembesaran kelenjar thyroid – gondok. “Kretin pada usia balita, terlebih lagi sejak dalam kandungan, membawa potensi besar anak menjadi bodoh, lamban dan juga disertai pembesaran kelenjar gondok,” tutur Anie.



Mengenali Anak Kretin ?

“Sebenarnya sangat mudah untuk mengenali anak dengan gangguan tumbuh kembang,” ujar Anie. Ciri-ciri anak itu tampak jelas, karena tubuhnya cebol, pendengarannya buruk, matanya biasanya agak juling. Apalagi, ketika usianya sudah lebih dari 2 tahun, anak itu tampak jelas kebodohannya.

Namun, kata Anie, tak mudah untuk mengetahui secara dini kretin pada anak pada anak baru lahir. Apalagi masih berupa janin dalam kandungan. Kendati bayi itu kretin, sulit dideteksi. “Tapi bukan berarti hal itu tak mungkin dilakukannya,” katanya.

Menurut Anie, menentukan anak kretin dapat dilakukan pada bayi berusia 4-14 hari. Caranya dengan melakukan pemeriksaan klinis, laboratorium, dan pemeriksaan penunjang lainnya. Bila sejak dini atau sebelum dua bulan ditemukan kalau si anak itu kretin, diharapkan bisa diobati, sehingga gangguan tumbuh kembangnya bisa diminimalisasi. Biasanya, gejala yang paling mudah dilihat secara klinis adalah bisu, tuli, mental retardasi, dan gangguan motorik. Kemudian diperkuat pemeriksaan kadar TSH dan T4 dalam darahnya.

Anie mengatakan bila ditemukan kadar thyroxin-nya rendah pada balita, segeralah dibawa ke dokter. Bila ditemukan sudah ada kelainan tumbuh kembang, segera dilakukan tindakan rehabilitasi. Namun sayangnya, tak semua fasilitas pelayanan kesehatan, baik pemerintah maupun swasta, yang mempunyai fasilitas tersebut. “Biayanya pun cukup tinggi,” ujarnya.

0 Comments: